Agar sesuatu hubungan itu berjalan lancar, sebaiknya wanita dan pria saling memahami satu sama lain..
Sayangnya, tetap ada tiga hal yang tidak diketahui wanita dari pria..
1. PRIA ITU SEDERHANA..
Tidak seperti wanita yang kompleks, pria itu sederhana, Apa yang mereka rasakan, itulah yang diungkapkan..
Pria juga mudah ditebak tidak bertele-tele jika ingin menyampaikan sesuatu..
Sayangnya banyak wanita kurang sadar akan hal ini dan menganggap pria membingungkan..
2. PRIA ITU CUEK..
Pria cukup payah dalam memberikan perhatian..
Kebanyakan dari mereka sangat cuek dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyenangkan pasangannya..
Meskipun begitu, cuek bukan berarti tidak sayang.. Jadi jangan buru-buru menuduh pria tidak menyukai Anda hanya karena dia punya watak yang sangat cuek..
3. PRIA TAK BISA MEMBACA PIKIRAN..
Kebiasaan wanita yang punya masalah dengan pasangannya adalah diam saja..
Mereka berharap agar pria paham dengan sendirinya atas kesalahan yang dilakukan..
Padahal semua pria pasti tidak bisa membaca pikiran,Jadi percuma saja jika wanita diam, masalah pasti tidak akan terselesaikan..
Beberapa wanita mungkin tahu tentang ketiga hal tersebut tentang pria, namun pura-pura tidak menyadarinya..
Apakah Anda juga Begitu..??
Minggu, 19 Mei 2013
Jumat, 10 Mei 2013
"Just Give Me A Reason"
Kita
semua bisa dibilang sekolah, siapa sih yang tidak sekolah? Minimal SD,
SMP. Lantas pertanyaannya kenapa kita sekolah? Disuruh orang tua?
Pengin? Biar dapat pekerjaan bagus? Just give me a reason.
Kita semua makan, minum, siapa sih yang tidak makan, minum? Pasti melakukannya. Lantas pertanyaannya kenapa kita makan, minum? Terpaksa? Dipaksa? Butuh? Harus? Kalau nggak semaput bisa wassalam? Just give me a reason.
Kita semua main internetan, facebook-an, twitteran, siapa sih yang tidak--apalagi kalau bisa baca catatan ini, siapa yg tidak? Lantas pertanyaannya kenapa kita main internetan, fb-an? Ada alasannya? Ada penyebabnya? Just give me a reason.
Kenapa kita menikah? Siapa sih yang menyuruh menikah? Kenapa harus dia? Just give me a reason.
Kenapa kita jatuh cinta? Siapa sih yang menyuruh jatuh cinta? Kenapa harus dia? Just give me a reason.
Kenapa kita kerja keras? Mau kaya raya? Buat apa? Untuk siapa? Lantas kenapa? Just give me a reason.
Sudah saatnya orang2 memikirkan jawaban atas banyak pertanyaan penting. Karena dari sanalah sebuah prinsip hidup yang baik bisa tumbuh. Manusia itu dilengkapi otak, dan itu tidak hanya didesain untuk belajar matematika, menemukan teknologi baru, menemukan pemikiran hebat, dan sebagainya; otak manusia pun juga didesain untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan2 yang bisa memandu hidup. Di desain untuk berpikir tentang hakikat hidup, dan mencari Tuhan-nya.
Just give me a reason. Semoga menemukannya, dan menjadi lampu penerang hingga kapanpun. Pemahaman yang mencegah kita berbuat buruk, zalim dan merusak. Memandu kita berbuat baik, berbagi dan selalu saling mengingatkan. Tidak ada dalam agama kita jawaban: Karena ngikut saja, bang. Karena ngalir saja deh, bang. Tahu deh, pokoknya begitu deh, bang. Tidak terbilang dalam kitab suci ditulis agar manusia menggunakan akalnya untuk berpikir.
Just give me a reason. Karena tahukah kita, bukankah kita semua dilahirkan, hidup di muka bumi? Siapa yang menyuruh kita hidup? Bisa berkeliaran di muka bumi? Jangan sampai hingga maut menjemput, kita tidak tahu kenapa kita hidup di muka bumi. Apakah kita pernah menemukan Tuhan dalam perjalanan pemikiran tersebut.
Just give me a reason.
-Tere Liye
Kita semua makan, minum, siapa sih yang tidak makan, minum? Pasti melakukannya. Lantas pertanyaannya kenapa kita makan, minum? Terpaksa? Dipaksa? Butuh? Harus? Kalau nggak semaput bisa wassalam? Just give me a reason.
Kita semua main internetan, facebook-an, twitteran, siapa sih yang tidak--apalagi kalau bisa baca catatan ini, siapa yg tidak? Lantas pertanyaannya kenapa kita main internetan, fb-an? Ada alasannya? Ada penyebabnya? Just give me a reason.
Kenapa kita menikah? Siapa sih yang menyuruh menikah? Kenapa harus dia? Just give me a reason.
Kenapa kita jatuh cinta? Siapa sih yang menyuruh jatuh cinta? Kenapa harus dia? Just give me a reason.
Kenapa kita kerja keras? Mau kaya raya? Buat apa? Untuk siapa? Lantas kenapa? Just give me a reason.
Sudah saatnya orang2 memikirkan jawaban atas banyak pertanyaan penting. Karena dari sanalah sebuah prinsip hidup yang baik bisa tumbuh. Manusia itu dilengkapi otak, dan itu tidak hanya didesain untuk belajar matematika, menemukan teknologi baru, menemukan pemikiran hebat, dan sebagainya; otak manusia pun juga didesain untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan2 yang bisa memandu hidup. Di desain untuk berpikir tentang hakikat hidup, dan mencari Tuhan-nya.
Just give me a reason. Semoga menemukannya, dan menjadi lampu penerang hingga kapanpun. Pemahaman yang mencegah kita berbuat buruk, zalim dan merusak. Memandu kita berbuat baik, berbagi dan selalu saling mengingatkan. Tidak ada dalam agama kita jawaban: Karena ngikut saja, bang. Karena ngalir saja deh, bang. Tahu deh, pokoknya begitu deh, bang. Tidak terbilang dalam kitab suci ditulis agar manusia menggunakan akalnya untuk berpikir.
Just give me a reason. Karena tahukah kita, bukankah kita semua dilahirkan, hidup di muka bumi? Siapa yang menyuruh kita hidup? Bisa berkeliaran di muka bumi? Jangan sampai hingga maut menjemput, kita tidak tahu kenapa kita hidup di muka bumi. Apakah kita pernah menemukan Tuhan dalam perjalanan pemikiran tersebut.
Just give me a reason.
-Tere Liye
Kamis, 09 Mei 2013
KEBIASAAN MEMBACA
Kebiasaan
membaca seharusnya bukan semata2 milik orang Jepang. Bayangkan, di
Jepang, koran2 top mereka, seperti Asahi Shimbun, oplahnya per hari bisa
mencapai nyaris 8 juta eksemplar (edisi pagi), dan 3 juta (edisi
sorenya). Ampun2an deh melihat angka ini. Kalian tahu, setiap 1000 orang
Jepang, maka ada 634 koran. Gile bener, kan? Di Indonesia, satu koran
bisa buat 10 orang. Yomiuri Shimbun, koran Jepang juga, bahkan sirkulasinya bisa mencapai 14 juta per hari (tahun 2005; tahun paling tinggi).
Menurut cerita orang2 yg pernah tinggal di luar negeri; negara2 maju itu, budaya membacanya bukan main. Di kereta, di bus, di halte, mereka pada rajin membaca. Karena saya hanya tinggal di kisaran sini-sini saja, jd saya tidak tahu pasti, apakah kabar ini benar atau cuma kabar burung saja.
Kalau melihat data dari nationmaster, meski datanya tidak update, maka di negara seperti Swis, Finlandia, Inggris, rata2 produksi buku per judul bisa mencapai 2 judul per 1000 penduduk. Indonesia di urutan 97, dengan angka 0,001 judul per 1000 penduduk. Kita lagi2 tertinggal jauh.
Menurut cerita orang2 yg pernah tinggal di luar negeri; negara2 maju itu perpustakaannya ramai sekali. Jam buka perpustakaan baru setengah jam lagi, pukul 09.00, yg mengantri di halaman perpust sudah mengular panjang, yang membuat petugas perpust harus membuat aturan main masuk per gelombang. Di Indonesia rasa-rasanya sy tidak pernah menemukan yg begitu. Sy pernah nyasar di Hongkong, sy bingung melihat ini antrian apa sih? Panjang benar, pagi2 sekali? Seorang petugas berbaik hati bilang antrian masuk perpust. Saya menghela nafas lega, Thx God, sy kira ini antrian ke toilet, karena sy sejak tadi kebelet buang air kecil setelah berkeliling.
Tinggalkan data kuantitatif yang kadang membuat pusing, mari kita lihat sekitar; apakah kebiasaan membaca ada? Anak2 remaja, apakah lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca? Orang tua, orang2 dewasa, apakah lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca? Silahkan dinilai masing2, karena kalau sy yang menyimpulkan, lebih banyak yang protesnya. Bilang melototin gagdet, itu juga membaca. Dsbgnya, dsbgnya.
Saya hanya ingin menutup catatan pendek ini dengan: seharusnya kebiasaan membaca itu MILIK kita. Ya Allah, bukankah semua umat muslim tahu, ayat pertama yang diturunkan berbunyi: bacalah. Kebiasaan membaca itu sungguh seharusnya milik kami. Milik kami ya Allah. Jadi bukan karena tere liye seorang penulis buku, yang jualan buku, maka dia konsen sekali atas budaya membaca, tapi adalah perintah nyata dalam kitab suci, membaca.
Entahlah. Sebenarnya, apakah orang2 modern di luar negeri itu yang lebih paham soal perintah membaca ini, mereka mengambil manfaatnya, sementara kami tidak--bahkan tidak peduli kalau itu perintah pertama kitab suci.
Saya juga akan tulis lagi dalam repost catatan ini beberapa manfaat membaca (’Aidh bin Abdullah al-Qarn):
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang2 malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan orang-orang berilmu.
8. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.
9. Keyakinan seseorangakan bertambah ketika dia membaca buku2 yang bermanfaat, terutama buku2 yang ditulis oleh penulis2 yg baik. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
10. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.
11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Menurut cerita orang2 yg pernah tinggal di luar negeri; negara2 maju itu, budaya membacanya bukan main. Di kereta, di bus, di halte, mereka pada rajin membaca. Karena saya hanya tinggal di kisaran sini-sini saja, jd saya tidak tahu pasti, apakah kabar ini benar atau cuma kabar burung saja.
Kalau melihat data dari nationmaster, meski datanya tidak update, maka di negara seperti Swis, Finlandia, Inggris, rata2 produksi buku per judul bisa mencapai 2 judul per 1000 penduduk. Indonesia di urutan 97, dengan angka 0,001 judul per 1000 penduduk. Kita lagi2 tertinggal jauh.
Menurut cerita orang2 yg pernah tinggal di luar negeri; negara2 maju itu perpustakaannya ramai sekali. Jam buka perpustakaan baru setengah jam lagi, pukul 09.00, yg mengantri di halaman perpust sudah mengular panjang, yang membuat petugas perpust harus membuat aturan main masuk per gelombang. Di Indonesia rasa-rasanya sy tidak pernah menemukan yg begitu. Sy pernah nyasar di Hongkong, sy bingung melihat ini antrian apa sih? Panjang benar, pagi2 sekali? Seorang petugas berbaik hati bilang antrian masuk perpust. Saya menghela nafas lega, Thx God, sy kira ini antrian ke toilet, karena sy sejak tadi kebelet buang air kecil setelah berkeliling.
Tinggalkan data kuantitatif yang kadang membuat pusing, mari kita lihat sekitar; apakah kebiasaan membaca ada? Anak2 remaja, apakah lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca? Orang tua, orang2 dewasa, apakah lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca? Silahkan dinilai masing2, karena kalau sy yang menyimpulkan, lebih banyak yang protesnya. Bilang melototin gagdet, itu juga membaca. Dsbgnya, dsbgnya.
Saya hanya ingin menutup catatan pendek ini dengan: seharusnya kebiasaan membaca itu MILIK kita. Ya Allah, bukankah semua umat muslim tahu, ayat pertama yang diturunkan berbunyi: bacalah. Kebiasaan membaca itu sungguh seharusnya milik kami. Milik kami ya Allah. Jadi bukan karena tere liye seorang penulis buku, yang jualan buku, maka dia konsen sekali atas budaya membaca, tapi adalah perintah nyata dalam kitab suci, membaca.
Entahlah. Sebenarnya, apakah orang2 modern di luar negeri itu yang lebih paham soal perintah membaca ini, mereka mengambil manfaatnya, sementara kami tidak--bahkan tidak peduli kalau itu perintah pertama kitab suci.
Saya juga akan tulis lagi dalam repost catatan ini beberapa manfaat membaca (’Aidh bin Abdullah al-Qarn):
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang2 malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan orang-orang berilmu.
8. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.
9. Keyakinan seseorangakan bertambah ketika dia membaca buku2 yang bermanfaat, terutama buku2 yang ditulis oleh penulis2 yg baik. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
10. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.
11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Selasa, 07 Mei 2013
Kisah Seekor Monyet
Saya
itu pencinta kisah2 klasik, cerita2 orang tua. Ini juga salah satu
favorit saya: kisah seekor monyet. Saya lupa, di buku mana, dari siapa,
entah dulu waktu kecil pertama kali mendengarnya, jadi maafkan saya
tidak bisa merujuk sumber. Boleh jadi cerita ini diwarisi dari mulut ke
mulut, jadi tidak tahu.
Kalian mungkin pernah mendengarnya, tapi ijinkan saya menceritakannya ulang, here we go:
Alkisah, 'si angin' yang gagah perkasa diperintahkan oleh raja berkuasa untuk menjatuhkan seekor monyet dari pohon. Itu perintah simpel, jatuhkan monyet dari pohon tanpa merobohkan pohonnya. Maka, tanpa banyak tanya, berangkatlah si angin pergi ke hutan, hendak menunaikan tugas tersebut. Tidak butuh waktu lama, dia bisa menemukan seekor monyet muda yang sedang asyik duduk di atas pohon besar, sedang makan buah. Si angin menggeram kencang, mulai beraksi, dia bertiup kencang sekali. Si monyet kaget, tapi dengan cepat bisa berpegangan ke dahan pohon. Debu berterbangan, daun berkibar, dahan tersibak, hutan itu mulai dilanda angin ribut. Tapi apes bagi angin, sekencang apapun dia bertiup, itu monyet tidak jatuh, malah memeluk dahan pohon tambah erat. Rontok dedaunan, patah ranting2, pohon2 tersibak rebah jimpah, si monyet tetap tidak jatuh.
Si angin mulai putus asa, dia menggerung marah, bersiap mengirim badai besar, hendak menghancurkan hutan tersebut. Tapi dia segera ingat, raja menyuruhnya menjatuhkan monyet, bukan mencabut pohon besar tempat monyet itu berpegangan. Aduh, bagaimana ini? Maka setelah berjam2 mencoba tanpa hasil, hingga semalaman, tetap gagal, pulanglah si angin dengan tangan hampa.
Raja tertawa mendengar cerita si angin. Bilang, si angin salah strategi, tentu saja monyet itu akan tetap memeluk pohon tersebut bahkan kalaupun pohon sudah roboh. Setelah puas tertawa, kali ini raja menyuruhnya kembali ke hutan, lakukanlah dengan cara yang berbeda. Si angin, meski bingung dengan penjelasan raja, patuh, kembali ke hutan tersebut. Dia melaksanakan sesuai perintah, kali ini si angin mulai bertiup lembut, sangat lembut, seperti semilir yang meninabobokan. Saran raja efektif sekali. Astaga lihatlah, tidak butuh waktu lama, si monyet jatuh tertidur di atas dahan. Dan dengan situasi tersebut, dengan si monyet lelap tertidur, maka cukup satu sentakan angin kencang, si monyet jatuh ke bawah. Misi selesai.
Saya ingat sekali cerita ini. Selalu ingat. Pun termasuk nasehat di dalamnya.
Bahwa dalam hidup ini, kita boleh jadi memang gagah perkasa berhasil menghadapi hal2 buruk yang bersifat besar. Kita menolak untuk melakukan korupsi besar, kita menolak mencuri besar, kita jelas sekali gagah menghadapi itu semua. Karena terlihat, besar, dan jelas. Tapi kadang kita tidak menyadari, justeru kita bisa jatuh gara2 sesuatu yang kecil, yang berhasil meninabobokan kita. Sesuatu yang kita sepelekan, yang tidak kita sadari (atau lebih tepatnya tidak kita pedulikan), sesuatu yang buruk, yang justeru lama2 menjadi bukit, menjadi besar sekali. Menjebak kita, membuat kita menganggapnya lumrah. Lantas dengan sebuah godaan lebih besar, kita tutup mata, tergoda, maka jatuhlah kita seperti si monyet.
Saya tidak tahu apa hal2 kecil itu. Apa korup kecil2an itu, apa mencuri kecil2an itu. Saya serahkan ke masing2 orang untuk memikirkannya. Karena toh, saya juga pusing dan cemas memikirkan korup/mencuri kecil2an milik saya. Dalam jangka panjang, ini akan menjadi PR besar. Semoga orang2 memahami catatan ini.
Kalian mungkin pernah mendengarnya, tapi ijinkan saya menceritakannya ulang, here we go:
Alkisah, 'si angin' yang gagah perkasa diperintahkan oleh raja berkuasa untuk menjatuhkan seekor monyet dari pohon. Itu perintah simpel, jatuhkan monyet dari pohon tanpa merobohkan pohonnya. Maka, tanpa banyak tanya, berangkatlah si angin pergi ke hutan, hendak menunaikan tugas tersebut. Tidak butuh waktu lama, dia bisa menemukan seekor monyet muda yang sedang asyik duduk di atas pohon besar, sedang makan buah. Si angin menggeram kencang, mulai beraksi, dia bertiup kencang sekali. Si monyet kaget, tapi dengan cepat bisa berpegangan ke dahan pohon. Debu berterbangan, daun berkibar, dahan tersibak, hutan itu mulai dilanda angin ribut. Tapi apes bagi angin, sekencang apapun dia bertiup, itu monyet tidak jatuh, malah memeluk dahan pohon tambah erat. Rontok dedaunan, patah ranting2, pohon2 tersibak rebah jimpah, si monyet tetap tidak jatuh.
Si angin mulai putus asa, dia menggerung marah, bersiap mengirim badai besar, hendak menghancurkan hutan tersebut. Tapi dia segera ingat, raja menyuruhnya menjatuhkan monyet, bukan mencabut pohon besar tempat monyet itu berpegangan. Aduh, bagaimana ini? Maka setelah berjam2 mencoba tanpa hasil, hingga semalaman, tetap gagal, pulanglah si angin dengan tangan hampa.
Raja tertawa mendengar cerita si angin. Bilang, si angin salah strategi, tentu saja monyet itu akan tetap memeluk pohon tersebut bahkan kalaupun pohon sudah roboh. Setelah puas tertawa, kali ini raja menyuruhnya kembali ke hutan, lakukanlah dengan cara yang berbeda. Si angin, meski bingung dengan penjelasan raja, patuh, kembali ke hutan tersebut. Dia melaksanakan sesuai perintah, kali ini si angin mulai bertiup lembut, sangat lembut, seperti semilir yang meninabobokan. Saran raja efektif sekali. Astaga lihatlah, tidak butuh waktu lama, si monyet jatuh tertidur di atas dahan. Dan dengan situasi tersebut, dengan si monyet lelap tertidur, maka cukup satu sentakan angin kencang, si monyet jatuh ke bawah. Misi selesai.
Saya ingat sekali cerita ini. Selalu ingat. Pun termasuk nasehat di dalamnya.
Bahwa dalam hidup ini, kita boleh jadi memang gagah perkasa berhasil menghadapi hal2 buruk yang bersifat besar. Kita menolak untuk melakukan korupsi besar, kita menolak mencuri besar, kita jelas sekali gagah menghadapi itu semua. Karena terlihat, besar, dan jelas. Tapi kadang kita tidak menyadari, justeru kita bisa jatuh gara2 sesuatu yang kecil, yang berhasil meninabobokan kita. Sesuatu yang kita sepelekan, yang tidak kita sadari (atau lebih tepatnya tidak kita pedulikan), sesuatu yang buruk, yang justeru lama2 menjadi bukit, menjadi besar sekali. Menjebak kita, membuat kita menganggapnya lumrah. Lantas dengan sebuah godaan lebih besar, kita tutup mata, tergoda, maka jatuhlah kita seperti si monyet.
Saya tidak tahu apa hal2 kecil itu. Apa korup kecil2an itu, apa mencuri kecil2an itu. Saya serahkan ke masing2 orang untuk memikirkannya. Karena toh, saya juga pusing dan cemas memikirkan korup/mencuri kecil2an milik saya. Dalam jangka panjang, ini akan menjadi PR besar. Semoga orang2 memahami catatan ini.
KENAPA TIDAK?
Kenapa
Tuhan tidak memberikan mekanisme sederhana: jika orang berbohong, maka
hidungnya akan bertambah panjang. Macam Pinokio itu, semakin banyak
bohongnya, semakin panjang hidungnya. Keren bukan? Dengan begitu, tidak
akan ada yang coba-coba berdusta.
Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme simpel: jika orang mencuri, maka kupingnya akan semakin lebar. Semakin sering dia mencuri, macam mencuri waktu kerja, asyik main internetan pas jam kerja, kupingnya semakin lebaaaar, sudah kayak jendela rumah, atau kayak daun talas, gede banget. Keren, kan? Dengan begitu, tidak akan ada yang coba-coba mencuri.
Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme kecil: jika orang bergunjing, suka menjelek2an, suka berkata jorok, tukang fitnah, dsbgnya, bibirnya tambah memble. Semakin sering, maka bibirnya dower ampun2an, sampai menjuntai ke lantai saking dowernya. Yakin deh, orang2 pasti kapok, nggak akan berani coba2.
Kenapa?
Atau, kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme canggih: jika orang berbuat jahat, macam pemerkosa, tiba-tiba saja petir menyambar dari langit, membakar tubuhnya hingga jadi abu. Atau jika ada orang yang membunuh, merampok, tiba-tiba tanah terbelah, dan dia ditelan mentah2, musnah sudah dari muka bumi? Apa susahnya bagi Tuhan yang maha perkasa menciptakan mekanisme itu? Tapi kenapa tidak ada?
Jawaban persisnya saya tidak tahu. Tapi saya menggigit kuat2, bahwa Allah selalu punya rencana terbaik bagi semua orang. Pertanyaan2 ini tidak dalam rangka mempertanyakan banyak hal lantas kehilangan esensi iman, pertanyaan2 ini justeru menumbuhkan kesadaran betapa tingginya Allah, dan memperkokoh keyakinan dalam hati. Menambah kecintaan atas agama ini.
Maka, jawabannya, mungkin karena Allah memberikan kita semua kesempatan untuk berubah. Allah menutup aib kita, menutup dusta kita, maksiat, kebiasaan buruk kita, agar kita semua sempat berubah. Sungguh kasih sayang Allah itu tidak terhingga. Coba lihat, kita menantang Allah, dengan sombong sekali melakukan kejahatan, nyatanya tidak diambil oksigen di sekitar kita, manusia tetap bisa bernafas. Kita munafik sekali, barusan korup, kemudian shalat santai2 saja, nyatanya, Allah tidak membuat jantung kita berhenti berdetak. Padahal, bukankah kita seperti sedang mengolok2 Allah, memangnya Allah tidak bisa melihat kita korup barusan seperti Allah melihat kita shalat?
Maka, jawabannya, mungkin karena Allah selalu menyayangi kita semua. Pintu untuk memperbaiki selalu terbuka, selalu, selalu, dan selalu. Semoga kita tidak terlambat melakukannya. Karena sekali pintu itu sudah tertutup. Aduhai, sungguh azab dari langit itu pedih sekali. Lebih pedih dibanding disambar petir menjadi debu, lebih pedih dibanding ditelan bumi. Dan jelas, tidak ada orang yang bisa lari menghindar.
-Tere Liye
Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme simpel: jika orang mencuri, maka kupingnya akan semakin lebar. Semakin sering dia mencuri, macam mencuri waktu kerja, asyik main internetan pas jam kerja, kupingnya semakin lebaaaar, sudah kayak jendela rumah, atau kayak daun talas, gede banget. Keren, kan? Dengan begitu, tidak akan ada yang coba-coba mencuri.
Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme kecil: jika orang bergunjing, suka menjelek2an, suka berkata jorok, tukang fitnah, dsbgnya, bibirnya tambah memble. Semakin sering, maka bibirnya dower ampun2an, sampai menjuntai ke lantai saking dowernya. Yakin deh, orang2 pasti kapok, nggak akan berani coba2.
Kenapa?
Atau, kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme canggih: jika orang berbuat jahat, macam pemerkosa, tiba-tiba saja petir menyambar dari langit, membakar tubuhnya hingga jadi abu. Atau jika ada orang yang membunuh, merampok, tiba-tiba tanah terbelah, dan dia ditelan mentah2, musnah sudah dari muka bumi? Apa susahnya bagi Tuhan yang maha perkasa menciptakan mekanisme itu? Tapi kenapa tidak ada?
Jawaban persisnya saya tidak tahu. Tapi saya menggigit kuat2, bahwa Allah selalu punya rencana terbaik bagi semua orang. Pertanyaan2 ini tidak dalam rangka mempertanyakan banyak hal lantas kehilangan esensi iman, pertanyaan2 ini justeru menumbuhkan kesadaran betapa tingginya Allah, dan memperkokoh keyakinan dalam hati. Menambah kecintaan atas agama ini.
Maka, jawabannya, mungkin karena Allah memberikan kita semua kesempatan untuk berubah. Allah menutup aib kita, menutup dusta kita, maksiat, kebiasaan buruk kita, agar kita semua sempat berubah. Sungguh kasih sayang Allah itu tidak terhingga. Coba lihat, kita menantang Allah, dengan sombong sekali melakukan kejahatan, nyatanya tidak diambil oksigen di sekitar kita, manusia tetap bisa bernafas. Kita munafik sekali, barusan korup, kemudian shalat santai2 saja, nyatanya, Allah tidak membuat jantung kita berhenti berdetak. Padahal, bukankah kita seperti sedang mengolok2 Allah, memangnya Allah tidak bisa melihat kita korup barusan seperti Allah melihat kita shalat?
Maka, jawabannya, mungkin karena Allah selalu menyayangi kita semua. Pintu untuk memperbaiki selalu terbuka, selalu, selalu, dan selalu. Semoga kita tidak terlambat melakukannya. Karena sekali pintu itu sudah tertutup. Aduhai, sungguh azab dari langit itu pedih sekali. Lebih pedih dibanding disambar petir menjadi debu, lebih pedih dibanding ditelan bumi. Dan jelas, tidak ada orang yang bisa lari menghindar.
-Tere Liye
Jumat, 03 Mei 2013
Kekacauan Paham
Siapa di sini yang sering sekali ditanya: "kapan menikah?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, "Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga--tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?" Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?
Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya momongan?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.
Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?
Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.
Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.
Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"
Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.
--Tere Lije
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, "Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga--tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?" Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?
Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya momongan?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.
Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?
Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.
Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.
Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"
Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.
--Tere Lije
Selasa, 30 April 2013
Kau melengkapi hidupku?
Bagi pemuda-pemudi, suka sekali menggombal kepada orang yang
disukainya, bilang: "kau membuat hidupku lengkap"; atau dengan gaya
bahasa lain: "aku mencari potongan dalam hidupku, kau adalah potongan
yang membuatnya utuh", atau dengan kalimat2 gombal sejenis lainnya.
Saya tidak tahu sejarah kalimat2 gombal tersebut, siapa yang pertama kali menemukannya. Entahlah. Dan saya tidak sedang ingin membahas hal tersebut meski banyak novel dan tulisan tere liye membahas tentang perasaan.
Nah, bicara lengkap melengkapi, yang saya tahu, dan yg hendak dibahas dalam catatan pendek ini, bahwa di agama kita, juga ada hadist yang berbunyi--yang jelas tidak gombal: "”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” HR Baihaqi
Jadi menarik, bukan? Karena itu artinya ketika seseorang menikah, maka dia telah melengkapi setengah agamanya, dan ditambah dengan bertakwa kepada Allah, genap sudah setengah yang lainnya.
Menikah? Tentu saja hanya dan hanya dalam urusan menikah, Kawan. Repot urusan kalau hanya gombal pacaran saja. Tidak masuk akal jika pacaran itu bisa membuat agama kita lengkap. Jadi, buat yang barusaja menikah, fresh, boleh bilang ke pasangannya, "Kau telah membuat agama lengkap setengah, Sayang. Dan dengan kita sama2 bertakwa kepada Allah, lengkap sudah setengah lainnya.", atau bilang "Kau adalah potongan yang kucari selama ini yang membuat agama lengkap setengah, dan dengan bertakwa kepada Allah, lengkap sudah setengah lainnya."
Itu baru pol kalimat so sweet-nya
-Tere Liye
Saya tidak tahu sejarah kalimat2 gombal tersebut, siapa yang pertama kali menemukannya. Entahlah. Dan saya tidak sedang ingin membahas hal tersebut meski banyak novel dan tulisan tere liye membahas tentang perasaan.
Nah, bicara lengkap melengkapi, yang saya tahu, dan yg hendak dibahas dalam catatan pendek ini, bahwa di agama kita, juga ada hadist yang berbunyi--yang jelas tidak gombal: "”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” HR Baihaqi
Jadi menarik, bukan? Karena itu artinya ketika seseorang menikah, maka dia telah melengkapi setengah agamanya, dan ditambah dengan bertakwa kepada Allah, genap sudah setengah yang lainnya.
Menikah? Tentu saja hanya dan hanya dalam urusan menikah, Kawan. Repot urusan kalau hanya gombal pacaran saja. Tidak masuk akal jika pacaran itu bisa membuat agama kita lengkap. Jadi, buat yang barusaja menikah, fresh, boleh bilang ke pasangannya, "Kau telah membuat agama lengkap setengah, Sayang. Dan dengan kita sama2 bertakwa kepada Allah, lengkap sudah setengah lainnya.", atau bilang "Kau adalah potongan yang kucari selama ini yang membuat agama lengkap setengah, dan dengan bertakwa kepada Allah, lengkap sudah setengah lainnya."
Itu baru pol kalimat so sweet-nya
-Tere Liye
Selasa, 09 April 2013
Apa yang tidak pernah tersampaikan Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan
Apa yang tidak pernah tersampaikan oleh kata-kata
Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan
Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf
Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan
Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir,
atau sekadar angin, perantara bulan purnama, bintang-gemintang
Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan
Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumput menghijau,
di atas halaman sekolah, atau sekadar di langit-langit kamar
Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan
Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata
Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah
Mungkin saja sudah dikirimkan, melalui simbol-simbol laksana simbol asap suku pedalaman
Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya
Tidakkah kau mengerti?
Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita
Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan
Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat.
Maka menjalin tinggi ke atas sana
Menunggu jawaban yang pasti dan melegakan hati
Tidak akan merugi bagi yang paham.
-Tere Liye
Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan
Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf
Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan
Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir,
atau sekadar angin, perantara bulan purnama, bintang-gemintang
Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan
Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumput menghijau,
di atas halaman sekolah, atau sekadar di langit-langit kamar
Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan
Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata
Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah
Mungkin saja sudah dikirimkan, melalui simbol-simbol laksana simbol asap suku pedalaman
Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya
Tidakkah kau mengerti?
Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita
Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan
Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat.
Maka menjalin tinggi ke atas sana
Menunggu jawaban yang pasti dan melegakan hati
Tidak akan merugi bagi yang paham.
-Tere Liye
Minggu, 07 April 2013
Rahasia mengepel, mencuci, dll dengan masa depan Anda
Tulisan ini untuk main-main saja, tidak serius--saya nulisnya saja
sambil cengar-cengir, tidak pakai landasan ilmiah apalagi hingga riset
lama. Nah, ditulis, agar banyak orang realized, menyadari begitu
beragamnya pekerjaan rumah yang boleh jadi kita tinggal terima beres
saja. Semoga dengan membaca tulisan ini, jadi ngeh, kalau semua pekerjaan
rumah itu penting dan pantas diapresiasi. Kabar baiknya, karena saya
tidak suka menggurui orang lain, memaksa kalian, catatan akan saya tulis
dengan pendekatan berbeda.
Topik tulisan ini adalah: jika kita sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan sebuah pekerjaan rumah, maka kelak, kita akan jadi pribadi seperti apa?
1. Mencuci piring
--Kalau dia cewek, maka kelak saat tumbuh besar, dia akan jadi gadis yang anggun. Anak cewek usia 5-6 tahun, terampil mencuci piring, mulai dari membuang sisa makanan, menyiramnya dengan air, disabun, dibasuh, lantas mengeringkannya, disusun di rak piring, itu simbol betapa anggunnya kelak saat dia menjadi wanita dewasa. Kalau dia cowok, maka kelak akan jadi pemuda yang penyabar. Mencuci piring itu pekerjaan yang butuh kesungguhan bukan? Orang2 habis makan tinggal pergi, eh kita disuruh cuci piringnya. Maka, para cowok yg sejak kecil terbiasa disuruh mencuci piring, adalah laki-laki yang pantas dipertimbangkan sebagai calon suami. Dia type suami yang penyabar.
2. Mencuci dan menyetrika pakaian
--Berlaku untuk dua-duanya, cowok dan cewek. Anak-anak yang sejak kecil dibiasakan bertanggungjawab mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, atau bahkan mencuci pakaian seluruh keluarga, akan tumbuh jadi anak yang disiplin dan paham tentang pengorbanan. Tidak mudah loh mencuci pakaian sendiri. Banyak yang suka ditumpuk2 dulu pakaiannya, kelupaan direndam, sampai bau, maka melihat anak-anak yang sejak kecil sudah terampil mencuci pakaian, itu sama saja dengan melihat calon pemuda-pemudi masa depan yang tangguh. Apalagi menyetrika, itu menghabiskan banyak waktu, belum lagi hanya untuk tahu, disetrika rapi-rapi nanti-nanti juga lusuh lagi saat dipakai. Bagaimana kalau anak2nya bahkan semangat mau mencuci baju-baju tetangga? teman2nya? Kalau yang ini, bisa dipastikan, bakal sukses besar kalau dibuatkan bisnis laundry.
3. Menyapu dan mengepel rumah
--Kalau cewek, ini jelas akan tumbuh jadi gadis yang gesit dan cekatan. Kalau cowok, saat dewasa nanti akan tumbuh jadi pemuda yang bisa diandalkan, semua pekerjaan yang diberikan padanya akan beres. Nah, mau cewek atau cowok, anak-anak yang sejak kecil dibiasakan menyapu dan mengepel rumah, pasti akan tumbuh jadi anak yang cerdas, memakai logikanya dan sistematis. Kalian tahu, lulusan sarjana sekalipun, kalau tidak pernah mengepel lantai, maka dia akan kagok, dan lupa logika bahwa ngepel itu harus mundur. Logika, bukan?
4. Memasak
-- Wuah, anak2 cowok yang sejak kecil dibiasakan masak, besok lusa akan punya istri cantik jelita. Nah, ibu-bapak, kalau mau punya menantu cantik, anak bujangnya diajari masak, ya. Kalaupun ternyata rumus ini gagal--dan sy jelas ngarang saja, setidaknya di rumah akan ada koki kecil yang bisa diandalkan. Semua wanita suka dengan cowok yg pandai masak. Sementara kalau anak cewek yang dibiasakan masak sejak kecil, sama, besok lusa juga akan punya suami yang tampannya pol, plus baik hati. Ditambah bonus, disayang anak2nya. Jadi membiasakan anak-anak masak sejak kecil, adalah strategi paling mudah untuk memperbaiki keturunan.
5. Menyikat kamar mandi
--Bukan main, kalau dia cowok, maka sungguh beruntung Bapak/Ibu yg punya anak demikian. Kelak kalau sudah besar, dia berbakat jadi pemimpin semacam gubernur DKI Jakarta yg rendah hati dan suka mendatangi orang2 kecil itu. Tanya saja sama beliau, waktu kecil pasti rajin menyikat kamar mandi. Nah, kalau dia cewek, dia akan tumbuh jd ibu yang sayang dgn anak2nya, menjaga keluarganya, dan bisa selalu menjaga amanah. Apa hubungannya menyikat kamar mandi dgn hal2 tersebut? Cobalah menyikat kamar mandi, toilet, dsbgnya, maka akan paham sendiri. Ilmu ini hanya bisa dipahami jika dipraktekkan.
Kurang lebih demikian. Maka adik2 remaja atau juga orang2 dewasa di page ini, bersyukurlah selalu jika keluarga kita berkecukupan dan kita tdk perlu melakukan hal ini semua--sebab ada yg sudah membereskannya. Tapi se kaya apapun keluarga kita, se makmur apapun orang tua kita, kita selalu bisa memilih utk bisa bekerja di rumah, mengurus pekerjaan rumah. Jangan sebaliknya, sudah orang tuanya ngos-ngosan cari nafkah, kita susaaaahnya minta ampun disuruh ngepel. Lebih sering ribut minta pulsa biar bisa facebookan, internetan, dan itu tuh.
-Tere Liye
Topik tulisan ini adalah: jika kita sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan sebuah pekerjaan rumah, maka kelak, kita akan jadi pribadi seperti apa?
1. Mencuci piring
--Kalau dia cewek, maka kelak saat tumbuh besar, dia akan jadi gadis yang anggun. Anak cewek usia 5-6 tahun, terampil mencuci piring, mulai dari membuang sisa makanan, menyiramnya dengan air, disabun, dibasuh, lantas mengeringkannya, disusun di rak piring, itu simbol betapa anggunnya kelak saat dia menjadi wanita dewasa. Kalau dia cowok, maka kelak akan jadi pemuda yang penyabar. Mencuci piring itu pekerjaan yang butuh kesungguhan bukan? Orang2 habis makan tinggal pergi, eh kita disuruh cuci piringnya. Maka, para cowok yg sejak kecil terbiasa disuruh mencuci piring, adalah laki-laki yang pantas dipertimbangkan sebagai calon suami. Dia type suami yang penyabar.
2. Mencuci dan menyetrika pakaian
--Berlaku untuk dua-duanya, cowok dan cewek. Anak-anak yang sejak kecil dibiasakan bertanggungjawab mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, atau bahkan mencuci pakaian seluruh keluarga, akan tumbuh jadi anak yang disiplin dan paham tentang pengorbanan. Tidak mudah loh mencuci pakaian sendiri. Banyak yang suka ditumpuk2 dulu pakaiannya, kelupaan direndam, sampai bau, maka melihat anak-anak yang sejak kecil sudah terampil mencuci pakaian, itu sama saja dengan melihat calon pemuda-pemudi masa depan yang tangguh. Apalagi menyetrika, itu menghabiskan banyak waktu, belum lagi hanya untuk tahu, disetrika rapi-rapi nanti-nanti juga lusuh lagi saat dipakai. Bagaimana kalau anak2nya bahkan semangat mau mencuci baju-baju tetangga? teman2nya? Kalau yang ini, bisa dipastikan, bakal sukses besar kalau dibuatkan bisnis laundry.
3. Menyapu dan mengepel rumah
--Kalau cewek, ini jelas akan tumbuh jadi gadis yang gesit dan cekatan. Kalau cowok, saat dewasa nanti akan tumbuh jadi pemuda yang bisa diandalkan, semua pekerjaan yang diberikan padanya akan beres. Nah, mau cewek atau cowok, anak-anak yang sejak kecil dibiasakan menyapu dan mengepel rumah, pasti akan tumbuh jadi anak yang cerdas, memakai logikanya dan sistematis. Kalian tahu, lulusan sarjana sekalipun, kalau tidak pernah mengepel lantai, maka dia akan kagok, dan lupa logika bahwa ngepel itu harus mundur. Logika, bukan?
4. Memasak
-- Wuah, anak2 cowok yang sejak kecil dibiasakan masak, besok lusa akan punya istri cantik jelita. Nah, ibu-bapak, kalau mau punya menantu cantik, anak bujangnya diajari masak, ya. Kalaupun ternyata rumus ini gagal--dan sy jelas ngarang saja, setidaknya di rumah akan ada koki kecil yang bisa diandalkan. Semua wanita suka dengan cowok yg pandai masak. Sementara kalau anak cewek yang dibiasakan masak sejak kecil, sama, besok lusa juga akan punya suami yang tampannya pol, plus baik hati. Ditambah bonus, disayang anak2nya. Jadi membiasakan anak-anak masak sejak kecil, adalah strategi paling mudah untuk memperbaiki keturunan.
5. Menyikat kamar mandi
--Bukan main, kalau dia cowok, maka sungguh beruntung Bapak/Ibu yg punya anak demikian. Kelak kalau sudah besar, dia berbakat jadi pemimpin semacam gubernur DKI Jakarta yg rendah hati dan suka mendatangi orang2 kecil itu. Tanya saja sama beliau, waktu kecil pasti rajin menyikat kamar mandi. Nah, kalau dia cewek, dia akan tumbuh jd ibu yang sayang dgn anak2nya, menjaga keluarganya, dan bisa selalu menjaga amanah. Apa hubungannya menyikat kamar mandi dgn hal2 tersebut? Cobalah menyikat kamar mandi, toilet, dsbgnya, maka akan paham sendiri. Ilmu ini hanya bisa dipahami jika dipraktekkan.
Kurang lebih demikian. Maka adik2 remaja atau juga orang2 dewasa di page ini, bersyukurlah selalu jika keluarga kita berkecukupan dan kita tdk perlu melakukan hal ini semua--sebab ada yg sudah membereskannya. Tapi se kaya apapun keluarga kita, se makmur apapun orang tua kita, kita selalu bisa memilih utk bisa bekerja di rumah, mengurus pekerjaan rumah. Jangan sebaliknya, sudah orang tuanya ngos-ngosan cari nafkah, kita susaaaahnya minta ampun disuruh ngepel. Lebih sering ribut minta pulsa biar bisa facebookan, internetan, dan itu tuh.
-Tere Liye
Selasa, 02 April 2013
10 SIFAT WANITA DIRINDUKAN PRIA
1. LEMAH LEMBUT
Coba perhatikan cara wanita berbicara kepada teman-temannya. Apakah
dia selalu suka bernada keras, teriak-teriak, atau malah sopan dan
selalu lembut dalam berkata-kata? Ciri-ciri inilah yang mencerminkan di
mana cara seorang wanita akan berbicara kepada seorang pria dan
keluarganya kelak.
2. HEMAT
Pria mana yang mau punya
wanita bermaterialistis? Nanti kalau kau sudah berkeluarga dengan
wanita tersebut, dia akan menghabiskan uang untuk belanja baju-baju yang
tidak perlu. Coba perhatikan dari cara dia menghabiskan uangnya
sekarang. Apakah dia termasuk orang yang hemat, pelit, atau hura-hura?
3. PENUH PERHATIAN
“Kok dia bisa ingat dengan ulang tahun orang tuaku?” ujar kamu. Itu
adalah pertanda bagus. Dia benar-benar perhatian akan hal-hal kecil
seperti itu. Padahal, kalian belum menikah. Sehabis kamu pulang kerja,
makananpun sudah tersedia. Saat kamu sedang sakit, dia memasakan bubur
untuk kamu. Hal-hal kecil seperti itulah yang akan membantu dan
memperkuat hubungan kamu. Bukankah Cowok juga memang suka diberi
perhatian lebih dari si Cewek?
4. PENYABAR
Kamu telat
untuk kencan dengan si Cewek tapi si Cewek tidak marah sama sekali saat
kamu datang dan dia sudah menunggu 25 menit kelaparan. Kenapa sabar itu
ciri-ciri yang baik? Coba pikirkan kalau Anda sedang dalam situasi apa
saja yang berbau negatif; kesabaran itu akan membantu suasana itu tidak
menjadi lebih buruk. Coba bayangkan Anda sedang kencan dengan Cewek yang
tidak sabar. Sedikit-sedikit dia marah karena kamu tidak tepat waktu,
berbuat sedikit kesalahan. Kencan yang seharusnya senang-senang malahan
menjadi pengalaman buruk.
5. SEDERHANA
Perhatikan
apakah si Cewek kamu suka berlebihan di depan teman-temannya. Apakah
dia suka memamerkan tas baru yang baru dia beli hari itu juga? Orang
yang suka pamer dan tidak sederhana menunjukan kalau si Cewek itu tidak
percaya diri; ada kekurangan yang dia punya dan ingin menutupinya dengan
memamerkan sesuatu yang lebih dari dia. Ini sifat yang tidak bagus
untuk para Cowok.
6. JAGA KECANTIKAN
Tidak berarti
Cewek itu harus tampil cantik, tapi menjaga kecantikan itu juga berarti
itu Cewek tahu bagaimana caranya menjaga dan merawat dirinya sendiri.
Jikalah Anda sedang berkencan dengan dia, perhatikanlah “make-up” yang
dia pakai. Apakah terlalu berlebihan sehingga menarik perhatian
orang-orang lain di sekitar anda? Apakah dia memakai rok mini yang
berlebihan? Jaga kecantikan itu berarti menjaga penampilan secukupnya
dan sewajarnya di saat dan tempat yang benar.
7. DEWASA & BIJAK
Cowok suka dengan Cewek yang bijaksana dan bersikap dewasa. Di saat
kesusahan, Cowok akan membutuh bantuan dari seorang Cewek yang dewasa
dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
8. TAAT BERAGAMA
Agama adalah salah satu pegangan hidup untuk kita manusia. Taat kepada
agama juga menunjukan kalau si Cewek akan taat terhadap kamu. Bukan
berarti kamu bisa semena-mena terhadap dia dan menyuruh si Cewek untuk
menuruti apapun yang kamu mau, tapi taat beragama menunjukan bahwa si
Cewek juga mempunyai prinsip hidup yang baik dan yang dia tekuni.
9. KEIBUAN
Cewek kalau senang bermain dengan anak kecil, bisa menggendong bayi,
menunggu mereka tidur, dan sebagainya. Inilah tanda-tanda dari Cewek
yang bisa kamu bayangkan saat mereka menjadi istri kamu. Dia akan
menjadi seorang ibu yang pandai di dalam rumah tangga.
10. TABAH & MAU KERJA KERAS
Inilah salah satu ciri-ciri dari Cewek yang agak susah dicari. Mengapa?
Cewek sudah terbiasa dengan tradisi di mana Cowok yang mencari uang. Di
masa-masa sulit, Cewek biasanya tidak terbiasa untuk bekerja keras
untuk keluarga. Jikalau kamu sudah menemukan Cewek yang tabah menderita
dan mau bekerja keras, hargailah dia... Wallahu a'lam.
Sabtu, 30 Maret 2013
Air Mengucur Deras
Sebelum dunia ini
tenggelam dalam begitu banyak 'rekayasa ekonomi' tingkat tinggi,
situasinya lebih mudah dipahami. Simpel. Dan lewat kesederhanaan
tersebut, orang-orang bisa menemukan sendiri wisdom, pemahaman baik,
meyakininya, menggigitnya, dan hidup sepanjang masa dengannya.
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan paragraf pembuka seperti itu? Iya, tentang air mengucur. Ada yang alirannya deras tak terbilang, tumpah ruah. Ada yang menetes saja, hanya cukup untuk diminum sendiri, dengan berhemat dan menahan diri tentunya.
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan dua paragraf pembuka seperti ini?
Tentang rezeki. Darimana datangnya rezeki manusia? Darimana sumber hakiki nafkah untuk memenuhi kebutuhan manusia?
Pemburu, adalah jenis pekerjaan pertama di muka bumi. Orang-orang gagah berburu binatang untuk dimakan. Itu benar, semakin pandai seorang pemburu, maka semakin tinggi kemungkinan dia memperoleh hewan buruan. Semakin rajin dia menjelajah, maka semakin besar persentase membawa pulang daging lezat. Tapi mau sejago apapun dia, rezekinya tergantung kasih sayang Tuhan. Binatang liar itu hidup karena kasih sayang Tuhan, dan bisa ditangkap oleh pemburu, jelas karena kasih sayang Tuhan. Nelayan juga pemburu, hanya berbeda tempat buruan. Di laut, dan menggunakan peralatan yang lebih rumit. Berapa ikan yang akan mereka bawa pulang? Seberpengalaman apapun seorang nelayan, maka jawabannya, tergantung kasih sayang Tuhan.
Petani, juga adalah jenis pekerjaan mula-mula di muka bumi. Bercocok tanam merpakan evolusi panjang peradaban manusia. Kita mengenal musim, mengenal iklim, kita mengetahui bibit, penyemaian, pupuk, hama, teknologi pertanian lainnya. Itu benar, semain ahli seseorang bertani, maka kemungkinan hasil panennya melimpah juga besar. Semakin tekun, semakin dekat dengan kesuksesan bertani. Tapi jangan lupa, yang menumbuhkan padi hingga berbuah adalah kasih sayang Tuhan. Manusia tidak akan pernah bisa melakukannya. Yang membuat padi berbulir lebat atau sedikit, juga kasih sayang Tuhan. Pun yang menentukan ada atau tidaknya hama, banjir, dan hal-hal yang mencegah terjadinya panen, juga kasih sayang Tuhan.
Maka, pemahaman yang sama berlaku bagi penambang, mengumpulkan isi perut bumi. Mengeduk emas, timah, batu koral, pasir, apa saja dari kasih sayang alam. Juga penyadap getah, pengambil madu, juga sama bagi tukang bangunan, tukang kayu, tukang jahit, dan tukang-tukang lainnya, itu turunan kesekian dari pekerjaan sebelumnya. Semua rezekinya tergantung dari alam sekitar, dan jelas alam sekitar adalah bentuk kasih sayang Tuhan paling terlihat.
Petani yang benar-benar paham hakikat menjadi petani, akan tumbuh dengan pemahaman hebat. Itulah yang sering kita lihat pada orang tua kita dulu yang meski hanya jadi petani, tapi nasehatnya membekas hingga kapanpun. Juga nelayan yang sebenar-benarnya nelayan, amat paham kebijaksanaan ini, mereka yakin bahwa rezeki datangnya dari kasih sayang Tuhan--meski ada yang bablas, menerjemahkan Tuhan itu dalam bentuk kekuasaan mistis dangkal.
Nah, lantas PNS itu rezekinya dari mana? Karyawan swasta rezekinya dari mana? Artis rezekinya dari mana? Broker saham? Koki restoran? Apoteker? Dokter? Penulis? Bukankah tidak terlihat langsung keterlibatan kasih sayang alam di sana? Apalagi yang memiliki penghasilan tetap, pasti dapat gaji sekian setiap bulan? Di mana keterlibatan Tuhan di sana? Kan pasti dapat gaji, berbeda dengan nelayan yang belum tentu. Apalagi profesi yang terlihat keahliannya, bukankah karena dia memang menguasai ilmu tersebut maka dia bisa memperoleh rezekinya? Di mana keterlibatan Tuhan?
Jawabannya absolut: sama, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan.
Saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar karena dengan segera tulisan ini menghilangkan kesempatan orang-orang untuk berpikir, merenungkannya. Silahkan dipikirkan saja. Sungguh apapun pekerjaan kita, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan. Saya hendak menutup tulisan ini dengan sesuatu kenapa tulisan ini dibuat.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia akan selalu bekerja sungguh-sungguh berharap Tuhannya melihat--dan tentu saja memang melihat-- kemudian ridho padanya. Tidak ada kamus untuk membuang-buang waktu, bermalas-malas, apalagi zalim, mengkhianati amanah atas pekerjaan yang diberikan padanya. Tidak datang terlambat, tidak keluyuran pas jam kerja, dan tidak bersantai ria mencuri waktu dengan sesuatu yang jelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, termasuk internetan. Bagaimana mungkin kita berharap kasih sayang Tuhan, jika kita mengkhianati begitu banyak prinsip kebaikan.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia selalu bersyukur, alhamdulillah, sudah punya pekerjaan, alhamdulillah kantornya bagus, kursinya bagus, mejanya bagus. Coba tengok orang-orang di luar sana, tempat bekerjanya bau, pengap, dan tidak sehat. Apalagi di luar sana, malah ada yang susah payah menanggung beban karena tidak punya pekerjaan. Bersyukur akan membuat dia selalu menjaga diri, lagi-lagi tidak mengkhianati pekerjaannya.
Dan terakhir, bahwa orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka jelas, astagfirullah, bagaimana mungkin tega menyuap, menyogok demi memperoleh pekerjaan itu? Menyingkirkan orang lain? Kalaupun dia pedagang, maka bagaimana mungkin dia menipu pembelinya? Berdusta? Kalaupun dia dengan profesi2 lainnya, bagaimana mungkin menggunakan jalan yang jahat dan kejam sekali untuk memperoleh rezeki tersebut? Di mana letak kasih sayang Tuhannya?
Maka, my dear anggota page, percayalah bahwa rezeki itu datang dari kasih sayang Tuhan, dengan demikian, semoga kita semua sungguh terhindar dari tabiat kecil yang meski terlihat ringan, jelas-jelas zalim dan dosa. Semoga. Saya penulis, hanya bisa menggunakan kalimat-kalimat untuk membuat orang lain paham, satu dua digunakan kalimat yang tegas penuh ketegasan, satu dua dengan perumpamaan dan cerita lemah lembut. Tapi hanya itulah yang bisa saya lakukan, sekadar tulisan, kalianlah yang bisa membuatnya kongkret.
by : Tere Liye
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan paragraf pembuka seperti itu? Iya, tentang air mengucur. Ada yang alirannya deras tak terbilang, tumpah ruah. Ada yang menetes saja, hanya cukup untuk diminum sendiri, dengan berhemat dan menahan diri tentunya.
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan dua paragraf pembuka seperti ini?
Tentang rezeki. Darimana datangnya rezeki manusia? Darimana sumber hakiki nafkah untuk memenuhi kebutuhan manusia?
Pemburu, adalah jenis pekerjaan pertama di muka bumi. Orang-orang gagah berburu binatang untuk dimakan. Itu benar, semakin pandai seorang pemburu, maka semakin tinggi kemungkinan dia memperoleh hewan buruan. Semakin rajin dia menjelajah, maka semakin besar persentase membawa pulang daging lezat. Tapi mau sejago apapun dia, rezekinya tergantung kasih sayang Tuhan. Binatang liar itu hidup karena kasih sayang Tuhan, dan bisa ditangkap oleh pemburu, jelas karena kasih sayang Tuhan. Nelayan juga pemburu, hanya berbeda tempat buruan. Di laut, dan menggunakan peralatan yang lebih rumit. Berapa ikan yang akan mereka bawa pulang? Seberpengalaman apapun seorang nelayan, maka jawabannya, tergantung kasih sayang Tuhan.
Petani, juga adalah jenis pekerjaan mula-mula di muka bumi. Bercocok tanam merpakan evolusi panjang peradaban manusia. Kita mengenal musim, mengenal iklim, kita mengetahui bibit, penyemaian, pupuk, hama, teknologi pertanian lainnya. Itu benar, semain ahli seseorang bertani, maka kemungkinan hasil panennya melimpah juga besar. Semakin tekun, semakin dekat dengan kesuksesan bertani. Tapi jangan lupa, yang menumbuhkan padi hingga berbuah adalah kasih sayang Tuhan. Manusia tidak akan pernah bisa melakukannya. Yang membuat padi berbulir lebat atau sedikit, juga kasih sayang Tuhan. Pun yang menentukan ada atau tidaknya hama, banjir, dan hal-hal yang mencegah terjadinya panen, juga kasih sayang Tuhan.
Maka, pemahaman yang sama berlaku bagi penambang, mengumpulkan isi perut bumi. Mengeduk emas, timah, batu koral, pasir, apa saja dari kasih sayang alam. Juga penyadap getah, pengambil madu, juga sama bagi tukang bangunan, tukang kayu, tukang jahit, dan tukang-tukang lainnya, itu turunan kesekian dari pekerjaan sebelumnya. Semua rezekinya tergantung dari alam sekitar, dan jelas alam sekitar adalah bentuk kasih sayang Tuhan paling terlihat.
Petani yang benar-benar paham hakikat menjadi petani, akan tumbuh dengan pemahaman hebat. Itulah yang sering kita lihat pada orang tua kita dulu yang meski hanya jadi petani, tapi nasehatnya membekas hingga kapanpun. Juga nelayan yang sebenar-benarnya nelayan, amat paham kebijaksanaan ini, mereka yakin bahwa rezeki datangnya dari kasih sayang Tuhan--meski ada yang bablas, menerjemahkan Tuhan itu dalam bentuk kekuasaan mistis dangkal.
Nah, lantas PNS itu rezekinya dari mana? Karyawan swasta rezekinya dari mana? Artis rezekinya dari mana? Broker saham? Koki restoran? Apoteker? Dokter? Penulis? Bukankah tidak terlihat langsung keterlibatan kasih sayang alam di sana? Apalagi yang memiliki penghasilan tetap, pasti dapat gaji sekian setiap bulan? Di mana keterlibatan Tuhan di sana? Kan pasti dapat gaji, berbeda dengan nelayan yang belum tentu. Apalagi profesi yang terlihat keahliannya, bukankah karena dia memang menguasai ilmu tersebut maka dia bisa memperoleh rezekinya? Di mana keterlibatan Tuhan?
Jawabannya absolut: sama, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan.
Saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar karena dengan segera tulisan ini menghilangkan kesempatan orang-orang untuk berpikir, merenungkannya. Silahkan dipikirkan saja. Sungguh apapun pekerjaan kita, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan. Saya hendak menutup tulisan ini dengan sesuatu kenapa tulisan ini dibuat.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia akan selalu bekerja sungguh-sungguh berharap Tuhannya melihat--dan tentu saja memang melihat-- kemudian ridho padanya. Tidak ada kamus untuk membuang-buang waktu, bermalas-malas, apalagi zalim, mengkhianati amanah atas pekerjaan yang diberikan padanya. Tidak datang terlambat, tidak keluyuran pas jam kerja, dan tidak bersantai ria mencuri waktu dengan sesuatu yang jelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, termasuk internetan. Bagaimana mungkin kita berharap kasih sayang Tuhan, jika kita mengkhianati begitu banyak prinsip kebaikan.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia selalu bersyukur, alhamdulillah, sudah punya pekerjaan, alhamdulillah kantornya bagus, kursinya bagus, mejanya bagus. Coba tengok orang-orang di luar sana, tempat bekerjanya bau, pengap, dan tidak sehat. Apalagi di luar sana, malah ada yang susah payah menanggung beban karena tidak punya pekerjaan. Bersyukur akan membuat dia selalu menjaga diri, lagi-lagi tidak mengkhianati pekerjaannya.
Dan terakhir, bahwa orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka jelas, astagfirullah, bagaimana mungkin tega menyuap, menyogok demi memperoleh pekerjaan itu? Menyingkirkan orang lain? Kalaupun dia pedagang, maka bagaimana mungkin dia menipu pembelinya? Berdusta? Kalaupun dia dengan profesi2 lainnya, bagaimana mungkin menggunakan jalan yang jahat dan kejam sekali untuk memperoleh rezeki tersebut? Di mana letak kasih sayang Tuhannya?
Maka, my dear anggota page, percayalah bahwa rezeki itu datang dari kasih sayang Tuhan, dengan demikian, semoga kita semua sungguh terhindar dari tabiat kecil yang meski terlihat ringan, jelas-jelas zalim dan dosa. Semoga. Saya penulis, hanya bisa menggunakan kalimat-kalimat untuk membuat orang lain paham, satu dua digunakan kalimat yang tegas penuh ketegasan, satu dua dengan perumpamaan dan cerita lemah lembut. Tapi hanya itulah yang bisa saya lakukan, sekadar tulisan, kalianlah yang bisa membuatnya kongkret.
by : Tere Liye
Jumat, 25 Januari 2013
KENAPA HARUS KAMU ?
Jatuh cinta memang tidak bisa direncanakan. Kapan, kepada siapa, dan bagaimana hasilnya. Jadi, kemungkinan cinta itu jatuh di tempat yang salah, pasti ada.
Seperti halnya aku, sekarang, malam ini. Aku berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini terlihat lebih diam, lebih tak berfungsi.
Aku tulis sebaris kalimat di atas selembar kertas.
"Kenapa harus kamu?"
Aku punya hati, aku punya perasaan. Dan itu buat kamu.
Aku punya rindu, aku punya rasa ingin bertemu. Dan itu punya kamu.
Kenapa harus kamu... Kenapa harus kamu...
Ya Tuhan. Apa hati ini salah memilihnya? Apa hati ini tak pantas jika bersamanya?
Mencintai orang yang salah tak pernah ada di pikiranku sebelumnya. Sebegitu menyakitkannya perasaan ini jatuh kepada orang yang tidak tepat.
Aku jatuh cinta padanya. Pada seseorang yang tak kusangka sebelumnya. Sosok dia yang hadir, dia yang datang tanpa permisi. Kenapa harus kamu...
Ah, sudah. Semakin aku cari jawabnya, semakin sakit rasanya.
Aku percaya, itu akan indah pada waktunya, Tuhan yang tahu jawabnya.:')
@Misteeerius
Kamis, 10 Januari 2013
Tentang Masa Lalu
Ini cerita tentang masa lalu, masa lalu yang masih gt2 aja..datang tiba2, pergi sesukanya..
Semua pasti pernah ngerasain kangen sama pasangannya,..
ya walaupun itu ngerasa yg hrs mereka lakuin..
Masa lalu cukup cukup dijadiin pelajaran aja...gaperlu dijadiin beban..
Mantan...
semua pasti punya mantankan?
iya itu masa lalu....
Sosok dia yang dulu kamu kangenin sekarang dmn?
Sosok dia yg dulu kamu bangga2in sekarang lagi ngapain?
Sosok dia yg dulu km sayang kamu cinta sekarang lg sm siapa?
Kamu ga tau kan??
Iyaaa...kamu bukan siapa2nya lagi...dan mungkin kamu udah ga berhak buat tau tentang dia lagi..
Lalu kemana sosok dia yang kamu percaya dan kamu anggep mengerti kamu sepenuhnya..??
Dia udah ga ada..
Pernah ga sih ngerasain kangen dikangenin sama dia..
Kamu masih kangen..tp dia lebih bahagia sm yg lain..apa ga sakit?
Pernah gasih ngerasain pengen bareng2 lagi sama dia..
kamu masih berharap tp dia udah bodo amat..apa ga sakit?
wajar sih kalo kamu masih sering inget tantang dia..
Inget cara dia ngebahagiain kamu..
Cara bikin kamu ketawa..
Ngambeknya dia waktu kamu cuekin..
Diemnya dia waktu kangen sm kamu..
Diemnyadia waktu lagi marah..
Kamu masih ingetkkan??
Yaudah..kamu tau kok mana yg nyakitin mana yg engga
Kamu inget dia udah nyakitin ngapain masih dilakuin..
Satu pesen dari gue..
"Gak ada manta yg ga nyakitin" dan "Ga ada mantan yg ga bs buat dilupain"...
@misteeerius
Semua pasti pernah ngerasain kangen sama pasangannya,..
ya walaupun itu ngerasa yg hrs mereka lakuin..
Masa lalu cukup cukup dijadiin pelajaran aja...gaperlu dijadiin beban..
Mantan...
semua pasti punya mantankan?
iya itu masa lalu....
Sosok dia yang dulu kamu kangenin sekarang dmn?
Sosok dia yg dulu kamu bangga2in sekarang lagi ngapain?
Sosok dia yg dulu km sayang kamu cinta sekarang lg sm siapa?
Kamu ga tau kan??
Iyaaa...kamu bukan siapa2nya lagi...dan mungkin kamu udah ga berhak buat tau tentang dia lagi..
Lalu kemana sosok dia yang kamu percaya dan kamu anggep mengerti kamu sepenuhnya..??
Dia udah ga ada..
Pernah ga sih ngerasain kangen dikangenin sama dia..
Kamu masih kangen..tp dia lebih bahagia sm yg lain..apa ga sakit?
Pernah gasih ngerasain pengen bareng2 lagi sama dia..
kamu masih berharap tp dia udah bodo amat..apa ga sakit?
wajar sih kalo kamu masih sering inget tantang dia..
Inget cara dia ngebahagiain kamu..
Cara bikin kamu ketawa..
Ngambeknya dia waktu kamu cuekin..
Diemnya dia waktu kangen sm kamu..
Diemnyadia waktu lagi marah..
Kamu masih ingetkkan??
Yaudah..kamu tau kok mana yg nyakitin mana yg engga
Kamu inget dia udah nyakitin ngapain masih dilakuin..
Satu pesen dari gue..
"Gak ada manta yg ga nyakitin" dan "Ga ada mantan yg ga bs buat dilupain"...
@misteeerius
Langganan:
Komentar (Atom)