Sebelum dunia ini
tenggelam dalam begitu banyak 'rekayasa ekonomi' tingkat tinggi,
situasinya lebih mudah dipahami. Simpel. Dan lewat kesederhanaan
tersebut, orang-orang bisa menemukan sendiri wisdom, pemahaman baik,
meyakininya, menggigitnya, dan hidup sepanjang masa dengannya.
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan paragraf pembuka seperti itu? Iya, tentang air mengucur. Ada yang alirannya deras tak terbilang, tumpah ruah. Ada yang menetes saja, hanya cukup untuk diminum sendiri, dengan berhemat dan menahan diri tentunya.
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan dua paragraf pembuka seperti ini?
Tentang rezeki. Darimana datangnya rezeki manusia? Darimana sumber hakiki nafkah untuk memenuhi kebutuhan manusia?
Pemburu, adalah jenis pekerjaan pertama di muka bumi. Orang-orang gagah berburu binatang untuk dimakan. Itu benar, semakin pandai seorang pemburu, maka semakin tinggi kemungkinan dia memperoleh hewan buruan. Semakin rajin dia menjelajah, maka semakin besar persentase membawa pulang daging lezat. Tapi mau sejago apapun dia, rezekinya tergantung kasih sayang Tuhan. Binatang liar itu hidup karena kasih sayang Tuhan, dan bisa ditangkap oleh pemburu, jelas karena kasih sayang Tuhan. Nelayan juga pemburu, hanya berbeda tempat buruan. Di laut, dan menggunakan peralatan yang lebih rumit. Berapa ikan yang akan mereka bawa pulang? Seberpengalaman apapun seorang nelayan, maka jawabannya, tergantung kasih sayang Tuhan.
Petani, juga adalah jenis pekerjaan mula-mula di muka bumi. Bercocok tanam merpakan evolusi panjang peradaban manusia. Kita mengenal musim, mengenal iklim, kita mengetahui bibit, penyemaian, pupuk, hama, teknologi pertanian lainnya. Itu benar, semain ahli seseorang bertani, maka kemungkinan hasil panennya melimpah juga besar. Semakin tekun, semakin dekat dengan kesuksesan bertani. Tapi jangan lupa, yang menumbuhkan padi hingga berbuah adalah kasih sayang Tuhan. Manusia tidak akan pernah bisa melakukannya. Yang membuat padi berbulir lebat atau sedikit, juga kasih sayang Tuhan. Pun yang menentukan ada atau tidaknya hama, banjir, dan hal-hal yang mencegah terjadinya panen, juga kasih sayang Tuhan.
Maka, pemahaman yang sama berlaku bagi penambang, mengumpulkan isi perut bumi. Mengeduk emas, timah, batu koral, pasir, apa saja dari kasih sayang alam. Juga penyadap getah, pengambil madu, juga sama bagi tukang bangunan, tukang kayu, tukang jahit, dan tukang-tukang lainnya, itu turunan kesekian dari pekerjaan sebelumnya. Semua rezekinya tergantung dari alam sekitar, dan jelas alam sekitar adalah bentuk kasih sayang Tuhan paling terlihat.
Petani yang benar-benar paham hakikat menjadi petani, akan tumbuh dengan pemahaman hebat. Itulah yang sering kita lihat pada orang tua kita dulu yang meski hanya jadi petani, tapi nasehatnya membekas hingga kapanpun. Juga nelayan yang sebenar-benarnya nelayan, amat paham kebijaksanaan ini, mereka yakin bahwa rezeki datangnya dari kasih sayang Tuhan--meski ada yang bablas, menerjemahkan Tuhan itu dalam bentuk kekuasaan mistis dangkal.
Nah, lantas PNS itu rezekinya dari mana? Karyawan swasta rezekinya dari mana? Artis rezekinya dari mana? Broker saham? Koki restoran? Apoteker? Dokter? Penulis? Bukankah tidak terlihat langsung keterlibatan kasih sayang alam di sana? Apalagi yang memiliki penghasilan tetap, pasti dapat gaji sekian setiap bulan? Di mana keterlibatan Tuhan di sana? Kan pasti dapat gaji, berbeda dengan nelayan yang belum tentu. Apalagi profesi yang terlihat keahliannya, bukankah karena dia memang menguasai ilmu tersebut maka dia bisa memperoleh rezekinya? Di mana keterlibatan Tuhan?
Jawabannya absolut: sama, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan.
Saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar karena dengan segera tulisan ini menghilangkan kesempatan orang-orang untuk berpikir, merenungkannya. Silahkan dipikirkan saja. Sungguh apapun pekerjaan kita, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan. Saya hendak menutup tulisan ini dengan sesuatu kenapa tulisan ini dibuat.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia akan selalu bekerja sungguh-sungguh berharap Tuhannya melihat--dan tentu saja memang melihat-- kemudian ridho padanya. Tidak ada kamus untuk membuang-buang waktu, bermalas-malas, apalagi zalim, mengkhianati amanah atas pekerjaan yang diberikan padanya. Tidak datang terlambat, tidak keluyuran pas jam kerja, dan tidak bersantai ria mencuri waktu dengan sesuatu yang jelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, termasuk internetan. Bagaimana mungkin kita berharap kasih sayang Tuhan, jika kita mengkhianati begitu banyak prinsip kebaikan.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia selalu bersyukur, alhamdulillah, sudah punya pekerjaan, alhamdulillah kantornya bagus, kursinya bagus, mejanya bagus. Coba tengok orang-orang di luar sana, tempat bekerjanya bau, pengap, dan tidak sehat. Apalagi di luar sana, malah ada yang susah payah menanggung beban karena tidak punya pekerjaan. Bersyukur akan membuat dia selalu menjaga diri, lagi-lagi tidak mengkhianati pekerjaannya.
Dan terakhir, bahwa orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka jelas, astagfirullah, bagaimana mungkin tega menyuap, menyogok demi memperoleh pekerjaan itu? Menyingkirkan orang lain? Kalaupun dia pedagang, maka bagaimana mungkin dia menipu pembelinya? Berdusta? Kalaupun dia dengan profesi2 lainnya, bagaimana mungkin menggunakan jalan yang jahat dan kejam sekali untuk memperoleh rezeki tersebut? Di mana letak kasih sayang Tuhannya?
Maka, my dear anggota page, percayalah bahwa rezeki itu datang dari kasih sayang Tuhan, dengan demikian, semoga kita semua sungguh terhindar dari tabiat kecil yang meski terlihat ringan, jelas-jelas zalim dan dosa. Semoga. Saya penulis, hanya bisa menggunakan kalimat-kalimat untuk membuat orang lain paham, satu dua digunakan kalimat yang tegas penuh ketegasan, satu dua dengan perumpamaan dan cerita lemah lembut. Tapi hanya itulah yang bisa saya lakukan, sekadar tulisan, kalianlah yang bisa membuatnya kongkret.
by : Tere Liye
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan paragraf pembuka seperti itu? Iya, tentang air mengucur. Ada yang alirannya deras tak terbilang, tumpah ruah. Ada yang menetes saja, hanya cukup untuk diminum sendiri, dengan berhemat dan menahan diri tentunya.
Tulisan ini akan bicara tentang apa dengan dua paragraf pembuka seperti ini?
Tentang rezeki. Darimana datangnya rezeki manusia? Darimana sumber hakiki nafkah untuk memenuhi kebutuhan manusia?
Pemburu, adalah jenis pekerjaan pertama di muka bumi. Orang-orang gagah berburu binatang untuk dimakan. Itu benar, semakin pandai seorang pemburu, maka semakin tinggi kemungkinan dia memperoleh hewan buruan. Semakin rajin dia menjelajah, maka semakin besar persentase membawa pulang daging lezat. Tapi mau sejago apapun dia, rezekinya tergantung kasih sayang Tuhan. Binatang liar itu hidup karena kasih sayang Tuhan, dan bisa ditangkap oleh pemburu, jelas karena kasih sayang Tuhan. Nelayan juga pemburu, hanya berbeda tempat buruan. Di laut, dan menggunakan peralatan yang lebih rumit. Berapa ikan yang akan mereka bawa pulang? Seberpengalaman apapun seorang nelayan, maka jawabannya, tergantung kasih sayang Tuhan.
Petani, juga adalah jenis pekerjaan mula-mula di muka bumi. Bercocok tanam merpakan evolusi panjang peradaban manusia. Kita mengenal musim, mengenal iklim, kita mengetahui bibit, penyemaian, pupuk, hama, teknologi pertanian lainnya. Itu benar, semain ahli seseorang bertani, maka kemungkinan hasil panennya melimpah juga besar. Semakin tekun, semakin dekat dengan kesuksesan bertani. Tapi jangan lupa, yang menumbuhkan padi hingga berbuah adalah kasih sayang Tuhan. Manusia tidak akan pernah bisa melakukannya. Yang membuat padi berbulir lebat atau sedikit, juga kasih sayang Tuhan. Pun yang menentukan ada atau tidaknya hama, banjir, dan hal-hal yang mencegah terjadinya panen, juga kasih sayang Tuhan.
Maka, pemahaman yang sama berlaku bagi penambang, mengumpulkan isi perut bumi. Mengeduk emas, timah, batu koral, pasir, apa saja dari kasih sayang alam. Juga penyadap getah, pengambil madu, juga sama bagi tukang bangunan, tukang kayu, tukang jahit, dan tukang-tukang lainnya, itu turunan kesekian dari pekerjaan sebelumnya. Semua rezekinya tergantung dari alam sekitar, dan jelas alam sekitar adalah bentuk kasih sayang Tuhan paling terlihat.
Petani yang benar-benar paham hakikat menjadi petani, akan tumbuh dengan pemahaman hebat. Itulah yang sering kita lihat pada orang tua kita dulu yang meski hanya jadi petani, tapi nasehatnya membekas hingga kapanpun. Juga nelayan yang sebenar-benarnya nelayan, amat paham kebijaksanaan ini, mereka yakin bahwa rezeki datangnya dari kasih sayang Tuhan--meski ada yang bablas, menerjemahkan Tuhan itu dalam bentuk kekuasaan mistis dangkal.
Nah, lantas PNS itu rezekinya dari mana? Karyawan swasta rezekinya dari mana? Artis rezekinya dari mana? Broker saham? Koki restoran? Apoteker? Dokter? Penulis? Bukankah tidak terlihat langsung keterlibatan kasih sayang alam di sana? Apalagi yang memiliki penghasilan tetap, pasti dapat gaji sekian setiap bulan? Di mana keterlibatan Tuhan di sana? Kan pasti dapat gaji, berbeda dengan nelayan yang belum tentu. Apalagi profesi yang terlihat keahliannya, bukankah karena dia memang menguasai ilmu tersebut maka dia bisa memperoleh rezekinya? Di mana keterlibatan Tuhan?
Jawabannya absolut: sama, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan.
Saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar karena dengan segera tulisan ini menghilangkan kesempatan orang-orang untuk berpikir, merenungkannya. Silahkan dipikirkan saja. Sungguh apapun pekerjaan kita, sumber rezekinya dari kasih sayang Tuhan. Saya hendak menutup tulisan ini dengan sesuatu kenapa tulisan ini dibuat.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia akan selalu bekerja sungguh-sungguh berharap Tuhannya melihat--dan tentu saja memang melihat-- kemudian ridho padanya. Tidak ada kamus untuk membuang-buang waktu, bermalas-malas, apalagi zalim, mengkhianati amanah atas pekerjaan yang diberikan padanya. Tidak datang terlambat, tidak keluyuran pas jam kerja, dan tidak bersantai ria mencuri waktu dengan sesuatu yang jelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, termasuk internetan. Bagaimana mungkin kita berharap kasih sayang Tuhan, jika kita mengkhianati begitu banyak prinsip kebaikan.
Bahwa, orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka dia selalu bersyukur, alhamdulillah, sudah punya pekerjaan, alhamdulillah kantornya bagus, kursinya bagus, mejanya bagus. Coba tengok orang-orang di luar sana, tempat bekerjanya bau, pengap, dan tidak sehat. Apalagi di luar sana, malah ada yang susah payah menanggung beban karena tidak punya pekerjaan. Bersyukur akan membuat dia selalu menjaga diri, lagi-lagi tidak mengkhianati pekerjaannya.
Dan terakhir, bahwa orang-orang yang meyakini rezekinya datang dari kasih sayang Tuhan, maka jelas, astagfirullah, bagaimana mungkin tega menyuap, menyogok demi memperoleh pekerjaan itu? Menyingkirkan orang lain? Kalaupun dia pedagang, maka bagaimana mungkin dia menipu pembelinya? Berdusta? Kalaupun dia dengan profesi2 lainnya, bagaimana mungkin menggunakan jalan yang jahat dan kejam sekali untuk memperoleh rezeki tersebut? Di mana letak kasih sayang Tuhannya?
Maka, my dear anggota page, percayalah bahwa rezeki itu datang dari kasih sayang Tuhan, dengan demikian, semoga kita semua sungguh terhindar dari tabiat kecil yang meski terlihat ringan, jelas-jelas zalim dan dosa. Semoga. Saya penulis, hanya bisa menggunakan kalimat-kalimat untuk membuat orang lain paham, satu dua digunakan kalimat yang tegas penuh ketegasan, satu dua dengan perumpamaan dan cerita lemah lembut. Tapi hanya itulah yang bisa saya lakukan, sekadar tulisan, kalianlah yang bisa membuatnya kongkret.
by : Tere Liye
Tidak ada komentar:
Posting Komentar