Saya
itu pencinta kisah2 klasik, cerita2 orang tua. Ini juga salah satu
favorit saya: kisah seekor monyet. Saya lupa, di buku mana, dari siapa,
entah dulu waktu kecil pertama kali mendengarnya, jadi maafkan saya
tidak bisa merujuk sumber. Boleh jadi cerita ini diwarisi dari mulut ke
mulut, jadi tidak tahu.
Kalian mungkin pernah mendengarnya, tapi ijinkan saya menceritakannya ulang, here we go:
Alkisah, 'si angin' yang gagah perkasa diperintahkan oleh raja berkuasa
untuk menjatuhkan seekor monyet dari pohon. Itu perintah simpel,
jatuhkan monyet dari pohon tanpa merobohkan pohonnya. Maka, tanpa banyak
tanya, berangkatlah si angin pergi ke hutan, hendak menunaikan tugas
tersebut. Tidak butuh waktu lama, dia bisa menemukan seekor monyet muda
yang sedang asyik duduk di atas pohon besar, sedang makan buah. Si angin
menggeram kencang, mulai beraksi, dia bertiup kencang sekali. Si monyet
kaget, tapi dengan cepat bisa berpegangan ke dahan pohon. Debu
berterbangan, daun berkibar, dahan tersibak, hutan itu mulai dilanda
angin ribut. Tapi apes bagi angin, sekencang apapun dia bertiup, itu
monyet tidak jatuh, malah memeluk dahan pohon tambah erat. Rontok
dedaunan, patah ranting2, pohon2 tersibak rebah jimpah, si monyet tetap
tidak jatuh.
Si angin mulai putus asa, dia menggerung marah,
bersiap mengirim badai besar, hendak menghancurkan hutan tersebut. Tapi
dia segera ingat, raja menyuruhnya menjatuhkan monyet, bukan mencabut
pohon besar tempat monyet itu berpegangan. Aduh, bagaimana ini? Maka
setelah berjam2 mencoba tanpa hasil, hingga semalaman, tetap gagal,
pulanglah si angin dengan tangan hampa.
Raja tertawa mendengar
cerita si angin. Bilang, si angin salah strategi, tentu saja monyet itu
akan tetap memeluk pohon tersebut bahkan kalaupun pohon sudah roboh.
Setelah puas tertawa, kali ini raja menyuruhnya kembali ke hutan,
lakukanlah dengan cara yang berbeda. Si angin, meski bingung dengan
penjelasan raja, patuh, kembali ke hutan tersebut. Dia melaksanakan
sesuai perintah, kali ini si angin mulai bertiup lembut, sangat lembut,
seperti semilir yang meninabobokan. Saran raja efektif sekali. Astaga
lihatlah, tidak butuh waktu lama, si monyet jatuh tertidur di atas
dahan. Dan dengan situasi tersebut, dengan si monyet lelap tertidur,
maka cukup satu sentakan angin kencang, si monyet jatuh ke bawah. Misi
selesai.
Saya ingat sekali cerita ini. Selalu ingat. Pun termasuk nasehat di dalamnya.
Bahwa dalam hidup ini, kita boleh jadi memang gagah perkasa berhasil
menghadapi hal2 buruk yang bersifat besar. Kita menolak untuk melakukan
korupsi besar, kita menolak mencuri besar, kita jelas sekali gagah
menghadapi itu semua. Karena terlihat, besar, dan jelas. Tapi kadang
kita tidak menyadari, justeru kita bisa jatuh gara2 sesuatu yang kecil,
yang berhasil meninabobokan kita. Sesuatu yang kita sepelekan, yang
tidak kita sadari (atau lebih tepatnya tidak kita pedulikan), sesuatu
yang buruk, yang justeru lama2 menjadi bukit, menjadi besar sekali.
Menjebak kita, membuat kita menganggapnya lumrah. Lantas dengan sebuah
godaan lebih besar, kita tutup mata, tergoda, maka jatuhlah kita seperti
si monyet.
Saya tidak tahu apa hal2 kecil itu. Apa korup
kecil2an itu, apa mencuri kecil2an itu. Saya serahkan ke masing2 orang
untuk memikirkannya. Karena toh, saya juga pusing dan cemas memikirkan
korup/mencuri kecil2an milik saya. Dalam jangka panjang, ini akan
menjadi PR besar. Semoga orang2 memahami catatan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar