Selasa, 07 Mei 2013

Kisah Seekor Monyet

Saya itu pencinta kisah2 klasik, cerita2 orang tua. Ini juga salah satu favorit saya: kisah seekor monyet. Saya lupa, di buku mana, dari siapa, entah dulu waktu kecil pertama kali mendengarnya, jadi maafkan saya tidak bisa merujuk sumber. Boleh jadi cerita ini diwarisi dari mulut ke mulut, jadi tidak tahu.

Kalian mungkin pernah mendengarnya, tapi ijinkan saya menceritakannya ulang, here we go:

Alkisah, 'si angin' yang gagah perkasa diperintahkan oleh raja berkuasa untuk menjatuhkan seekor monyet dari pohon. Itu perintah simpel, jatuhkan monyet dari pohon tanpa merobohkan pohonnya. Maka, tanpa banyak tanya, berangkatlah si angin pergi ke hutan, hendak menunaikan tugas tersebut. Tidak butuh waktu lama, dia bisa menemukan seekor monyet muda yang sedang asyik duduk di atas pohon besar, sedang makan buah. Si angin menggeram kencang, mulai beraksi, dia bertiup kencang sekali. Si monyet kaget, tapi dengan cepat bisa berpegangan ke dahan pohon. Debu berterbangan, daun berkibar, dahan tersibak, hutan itu mulai dilanda angin ribut. Tapi apes bagi angin, sekencang apapun dia bertiup, itu monyet tidak jatuh, malah memeluk dahan pohon tambah erat. Rontok dedaunan, patah ranting2, pohon2 tersibak rebah jimpah, si monyet tetap tidak jatuh.

Si angin mulai putus asa, dia menggerung marah, bersiap mengirim badai besar, hendak menghancurkan hutan tersebut. Tapi dia segera ingat, raja menyuruhnya menjatuhkan monyet, bukan mencabut pohon besar tempat monyet itu berpegangan. Aduh, bagaimana ini? Maka setelah berjam2 mencoba tanpa hasil, hingga semalaman, tetap gagal, pulanglah si angin dengan tangan hampa.

Raja tertawa mendengar cerita si angin. Bilang, si angin salah strategi, tentu saja monyet itu akan tetap memeluk pohon tersebut bahkan kalaupun pohon sudah roboh. Setelah puas tertawa, kali ini raja menyuruhnya kembali ke hutan, lakukanlah dengan cara yang berbeda. Si angin, meski bingung dengan penjelasan raja, patuh, kembali ke hutan tersebut. Dia melaksanakan sesuai perintah, kali ini si angin mulai bertiup lembut, sangat lembut, seperti semilir yang meninabobokan. Saran raja efektif sekali. Astaga lihatlah, tidak butuh waktu lama, si monyet jatuh tertidur di atas dahan. Dan dengan situasi tersebut, dengan si monyet lelap tertidur, maka cukup satu sentakan angin kencang, si monyet jatuh ke bawah. Misi selesai.

Saya ingat sekali cerita ini. Selalu ingat. Pun termasuk nasehat di dalamnya.

Bahwa dalam hidup ini, kita boleh jadi memang gagah perkasa berhasil menghadapi hal2 buruk yang bersifat besar. Kita menolak untuk melakukan korupsi besar, kita menolak mencuri besar, kita jelas sekali gagah menghadapi itu semua. Karena terlihat, besar, dan jelas. Tapi kadang kita tidak menyadari, justeru kita bisa jatuh gara2 sesuatu yang kecil, yang berhasil meninabobokan kita. Sesuatu yang kita sepelekan, yang tidak kita sadari (atau lebih tepatnya tidak kita pedulikan), sesuatu yang buruk, yang justeru lama2 menjadi bukit, menjadi besar sekali. Menjebak kita, membuat kita menganggapnya lumrah. Lantas dengan sebuah godaan lebih besar, kita tutup mata, tergoda, maka jatuhlah kita seperti si monyet.

Saya tidak tahu apa hal2 kecil itu. Apa korup kecil2an itu, apa mencuri kecil2an itu. Saya serahkan ke masing2 orang untuk memikirkannya. Karena toh, saya juga pusing dan cemas memikirkan korup/mencuri kecil2an milik saya. Dalam jangka panjang, ini akan menjadi PR besar. Semoga orang2 memahami catatan ini.

KENAPA TIDAK?

Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme sederhana: jika orang berbohong, maka hidungnya akan bertambah panjang. Macam Pinokio itu, semakin banyak bohongnya, semakin panjang hidungnya. Keren bukan? Dengan begitu, tidak akan ada yang coba-coba berdusta.

Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme simpel: jika orang mencuri, maka kupingnya akan semakin lebar. Semakin sering dia mencuri, macam mencuri waktu kerja, asyik main internetan pas jam kerja, kupingnya semakin lebaaaar, sudah kayak jendela rumah, atau kayak daun talas, gede banget. Keren, kan? Dengan begitu, tidak akan ada yang coba-coba mencuri.

Kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme kecil: jika orang bergunjing, suka menjelek2an, suka berkata jorok, tukang fitnah, dsbgnya, bibirnya tambah memble. Semakin sering, maka bibirnya dower ampun2an, sampai menjuntai ke lantai saking dowernya. Yakin deh, orang2 pasti kapok, nggak akan berani coba2.

Kenapa?

Atau, kenapa Tuhan tidak memberikan mekanisme canggih: jika orang berbuat jahat, macam pemerkosa, tiba-tiba saja petir menyambar dari langit, membakar tubuhnya hingga jadi abu. Atau jika ada orang yang membunuh, merampok, tiba-tiba tanah terbelah, dan dia ditelan mentah2, musnah sudah dari muka bumi? Apa susahnya bagi Tuhan yang maha perkasa menciptakan mekanisme itu? Tapi kenapa tidak ada?

Jawaban persisnya saya tidak tahu. Tapi saya menggigit kuat2, bahwa Allah selalu punya rencana terbaik bagi semua orang. Pertanyaan2 ini tidak dalam rangka mempertanyakan banyak hal lantas kehilangan esensi iman, pertanyaan2 ini justeru menumbuhkan kesadaran betapa tingginya Allah, dan memperkokoh keyakinan dalam hati. Menambah kecintaan atas agama ini.

Maka, jawabannya, mungkin karena Allah memberikan kita semua kesempatan untuk berubah. Allah menutup aib kita, menutup dusta kita, maksiat, kebiasaan buruk kita, agar kita semua sempat berubah. Sungguh kasih sayang Allah itu tidak terhingga. Coba lihat, kita menantang Allah, dengan sombong sekali melakukan kejahatan, nyatanya tidak diambil oksigen di sekitar kita, manusia tetap bisa bernafas. Kita munafik sekali, barusan korup, kemudian shalat santai2 saja, nyatanya, Allah tidak membuat jantung kita berhenti berdetak. Padahal, bukankah kita seperti sedang mengolok2 Allah, memangnya Allah tidak bisa melihat kita korup barusan seperti Allah melihat kita shalat?

Maka, jawabannya, mungkin karena Allah selalu menyayangi kita semua. Pintu untuk memperbaiki selalu terbuka, selalu, selalu, dan selalu. Semoga kita tidak terlambat melakukannya. Karena sekali pintu itu sudah tertutup. Aduhai, sungguh azab dari langit itu pedih sekali. Lebih pedih dibanding disambar petir menjadi debu, lebih pedih dibanding ditelan bumi. Dan jelas, tidak ada orang yang bisa lari menghindar.


-Tere Liye

Jumat, 03 Mei 2013

Kekacauan Paham

Siapa di sini yang sering sekali ditanya: "kapan menikah?"

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, "Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga--tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?" Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?

Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya momongan?"

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.

Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?

Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.

Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.

Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"

Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.

--Tere Lije

Selasa, 30 April 2013

Kau melengkapi hidupku?

Bagi pemuda-pemudi, suka sekali menggombal kepada orang yang disukainya, bilang: "kau membuat hidupku lengkap"; atau dengan gaya bahasa lain: "aku mencari potongan dalam hidupku, kau adalah potongan yang membuatnya utuh", atau dengan kalimat2 gombal sejenis lainnya.

Saya tidak tahu sejarah kalimat2 gombal tersebut, siapa yang pertama kali menemukannya. Entahlah. Dan saya tidak sedang ingin membahas hal tersebut meski banyak novel dan tulisan tere liye membahas tentang perasaan.

Nah, bicara lengkap melengkapi, yang saya tahu, dan yg hendak dibahas dalam catatan pendek ini, bahwa di agama kita, juga ada hadist yang berbunyi--yang jelas tidak gombal: "”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” HR Baihaqi

Jadi menarik, bukan? Karena itu artinya ketika seseorang menikah, maka dia telah melengkapi setengah agamanya, dan ditambah dengan bertakwa kepada Allah, genap sudah setengah yang lainnya.

Menikah? Tentu saja hanya dan hanya dalam urusan menikah, Kawan. Repot urusan kalau hanya gombal pacaran saja. Tidak masuk akal jika pacaran itu bisa membuat agama kita lengkap. Jadi, buat yang barusaja menikah, fresh, boleh bilang ke pasangannya, "Kau telah membuat agama lengkap setengah, Sayang. Dan dengan kita sama2 bertakwa kepada Allah, lengkap sudah setengah lainnya.", atau bilang "Kau adalah potongan yang kucari selama ini yang membuat agama lengkap setengah, dan dengan bertakwa kepada Allah, lengkap sudah setengah lainnya."

Itu baru pol kalimat so sweet-nya


-Tere Liye

Selasa, 09 April 2013

Apa yang tidak pernah tersampaikan Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan

Apa yang tidak pernah tersampaikan oleh kata-kata
Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan

Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf
Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan

Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir,
atau sekadar angin, perantara bulan purnama, bintang-gemintang
Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan

Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumput menghijau,
di atas halaman sekolah, atau sekadar di langit-langit kamar
Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan

Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata
Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah
Mungkin saja sudah dikirimkan, melalui simbol-simbol laksana simbol asap suku pedalaman
Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya

Tidakkah kau mengerti?

Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita
Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan
Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat.
Maka menjalin tinggi ke atas sana
Menunggu jawaban yang pasti dan melegakan hati
Tidak akan merugi bagi yang paham.


-Tere Liye